Seberapa Tertinggal Pendidikan Indonesia?
Pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk akses yang tidak merata, kualitas pendidikan yang bervariasi, dan kurangnya fasilitas di beberapa daerah. Meskipun ada upaya untuk meningkatkan sistem pendidikan, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan bahwa semua anak di Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.
Pendidikan di Indonesia masih tertinggal sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Jangan jauh-jauh membandingkannya dengan negara yang ada di benua eropa atau amerika, kita bandingkan dulu dengan negara tetangga kita, yaitu malaysia. Malaysia sudah jauh lebih maju dalam bidang pendidikan dibandingkan dengan indonesia. Kita bisa melihatnya dari banyaknya universitas yang masuk dalam peringkat dunia, jumlah lulusan yang berkualitas, dan fasilitas pendidikan yang lebih baik. Sementara itu, di Indonesia masih banyak daerah yang sulit dijangkau oleh pendidikan, kualitas guru yang belum merata, dan fasilitas yang kurang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara tetangga kita.
Namun, meskipun pendidikan di Indonesia masih tertinggal, kita tidak boleh menyerah. Kita harus terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, baik melalui reformasi sistem pendidikan, peningkatan kualitas guru, maupun peningkatan fasilitas pendidikan. Dengan kerja keras dan komitmen bersama, kita dapat memperbaiki pendidikan di Indonesia dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Kocak, ngomong doang gampang.
Masih banyak harus kita perbaiki, sekarang kalau mau memajukan pendidikan di Indonesia, tinggal disiplin aja kita sebagai guru, serius dalam mengajar, lalu buat murid kita juga ikut disiplin, kerasin dikit aturannya, jangan manja, jangan segela hal dibolehin, harus benar-benar disiplin dalam pendidikan, kalau sudah disiplin, pasti pendidikan di Indonesia akan maju dengan sendirinya.
Berdasarkan laporan PISA (Programme for International Student Assessment) terbaru, skor kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia masih berada di 10-15 negara terbawah, sementara Malaysia berada di posisi tengah atas. Namun, angka-angka itu hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya, ada masalah-masalah kronis yang membuat kita bertanya-tanya: sebenarnya apa yang salah?
1. Ketertinggalan dari Segi Sistem dan Kesejahteraan Guru
Banyak pihak menyalahkan kurikulum yang berganti-ganti atau guru yang
dianggap kurang disiplin. Namun, jika kita jujur, kurikulum Indonesia
secara teori tidak jelek-jelek amat. Masalah utamanya ada pada
implementasi dan kesejahteraan.
Di Malaysia, guru adalah profesi yang bergengsi. Gaji awal guru PNS di Malaysia sekitar RM 4.000–5.000 (Rp14–18 juta), plus tunjangan kinerja yang jelas. Di Indonesia, guru honorer yang jumlahnya sangat banyak—masih banyak yang digaji di bawah UMR, tanpa jaminan kesehatan atau pensiun yang layak.
Akibatnya, motivasi guru tergerus. Mereka lelah secara finansial dan psikologis. Ditambah lagi beban administrasi Kurikulum Merdeka yang menyita waktu. Pertanyaannya: bagaimana mungkin kita menuntut guru disiplin dan keras, sementara kesejahteraan mereka tidak mendukung?
2. Ketertinggalan dari Segi Otoritas Guru
Inilah yang paling memprihatinkan. Di Indonesia saat ini, guru takut pada orang tua murid. Bukan sebaliknya.
Seorang guru yang menegur siswa dengan nada keras atau memberikan sanksi non-fisik (misalnya disuruh berdiri di luar kelas) kini berisiko dilaporkan ke polisi dengan tuduhan kekerasan. Media sosial dan laporan viral telah menciptakan iklim ketakutan. Banyak guru memilih diam, tidak berani menegur, membiarkan kelas kacau, asalkan selamat dari laporan.
Padahal, di Malaysia, ada regulasi yang melindungi guru. Selama hukuman itu tidak meninggalkan luka fisik dan bersifat mendidik, guru tidak bisa dipidana. Orang tua pun diwajibkan melalui mediasi sekolah sebelum membawa kasus ke luar.
Di Indonesia, undang-undang perlindungan anak seringkali ditafsirkan terlalu luas sehingga membunuh naluri mendidik guru. Maka kita tertinggal, bukan karena guru malas, tetapi karena sistem membunuh otoritas mereka.
3. Ketertinggalan dari Segi Pola Asuh dan Budaya
Kita juga harus berani mengakui: pola asuh anak Indonesia saat ini sedang dalam masa transisi yang kacau.
Dulu, orang tua memberi kepercayaan penuh pada guru. Sekarang, banyak orang tua yang overprotektif. Setiap teguran dianggap kekerasan. Anak-anak yang terbiasa dengan gawai dan hiburan instan menjadi tidak tahan kritik. Akibatnya, mereka manja di rumah dan kebal di sekolah.
Di Malaysia, budaya hormat pada guru (guru adalah ibubapa kedua) masih relatif kuat. Orang tua cenderung datang ke sekolah berdiskusi, bukan langsung viral. Ini bukan soal superioritas, tetapi soal konsistensi budaya yang mendukung dunia pendidikan.
4. Jadi, Seberapa Tertinggal Kita?
Kita tertinggal secara sistemik, bukan hanya secara angka.
Kita tertinggal karena
- Gaji guru tidak layak, tapi dapat tuntutan sangat tinggi.
- Regulasi melindungi siswa secara berlebihan, tapi guru tidak dilindungi padahal sudah susah payah mendidik.
- Orang tua suka semena-mena melapor tanpa adanya mediasi.
- Guru hidup dalam ketakutan, sehingga lebih memilih aman daripada tegas.
Malaysia tidak lebih pintar dari kita. Mereka hanya lebih konsisten dalam membangun ekosistem pendidikan: guru dihormati, digaji layak, dilindungi hukum, dan orang tua diajak bermitra, bukan bermusuhan.
5. Jangan hanya Salahkan Guru
Jika kita serius ingin keluar dari ketertinggalan, ada tiga langkah mendesak:
- Revisi regulasi kekerasan di sekolah. Bedakan antara kekerasan (fisik/psikis berat) dengan pendisiplinan (sanksi non-fisik yang mendidik). Lindungi guru yang bertindak dalam batas kewajaran.
- Wajibkan mediasi orang tua. Tidak boleh ada laporan polisi tanpa melalui mediasi sekolah dan komite orang tua terlebih dahulu.
- Naikkan gaji guru honorer dan sederhanakan administrasi. Guru harus fokus mengajar, bukan jadi juru tulis.
Jadi, seberapa tertinggal pendidikan Indonesia? Tertinggal dalam hal keberpihakan pada guru. Selama guru takut mengajar dengan tegas, selama gaji tidak layak, dan selama orang tua bisa main viral setiap kali anaknya dimarahi, maka kita tidak akan pernah bisa mengejar Malaysia, apalagi dunia.
Pendidikan yang maju dimulai dari guru yang berani mendidik. Dan guru hanya akan berani jika sistem berdiri di belakang mereka, bukan di depan sebagai ancaman.